[Writing Prompt] Game

game

100 Challenge Writing Prompts:
Game from Excuses
Baekhyun (EXO) / Irene (RV) || Romance, Slice of Life || One Shot || PG
Summary: Irene harusnya tahu bahwa usaha kerasnya untuk menjaga nama baiknya bersih akan menjadi sia-sia sejak hari dia bertemu dengan Byun Baekhyun.

PreviousExcuses

ilachan@2015


Akhirnya dia mendengar engsel pintu yang ada di hadapannya berderik setelah sekian lama dirinya terus saja memukul kayu tebal itu tanpa henti. Baekhyun tidak pernah berpikir akan mendapat sambutan yang baik dari si pemilik rumah, bahkan sejak pertama kali dia memutuskan untuk datang berkunjung. Harusnya pemilik rumah setidaknya menunjukkan batang hidungnya meski dia tak sudi mempersilahkan Baekhyun masuk. Baekhyun pikir dirinya sudah mendapat perlakuan cukup buruk karena pemilik rumah tidak berkenan akan dirinya, tapi ternyata ada hal yang lebih keji dari pada itu.

Wajah Baekhyun terasa panas dan terbakar tak lama setelah pintu kayu yang terus ia serang itu terbuka lebar. Baekhyun pikir dirinya paling tidak akan mendapat cacian karena telah mengganggu si pemilik rumah. Tapi ternyata, belum sempat Baekhyun mendengar satu patah kata cacian, ada sebuah benda menampar keras sisi kanan wajahnya. Baekhyun mengerjap seketika. Mulutnya menggantung terbuka, keheranan dan tanpa ia sadari tangan kanannya naik mengentuh wajahnya yang kini mungkin sudah berubah menjadi merah.

Sungguh bukan main. Meski hubungan mereka berdua bisa dikatakan tidak berjalan baik, tapi Baekhyun tidak pernah berpikir bahwa dia akan mendapatkan perlakuan keji semacam ini. Adakah hal yang lebih memalukan selain mendapatkan tamparan keras saat pertama kali kau bertamu ke rumah sorang gadis meski kau sebenarnya datang dengan tujuan yang baik? Baekhyun dengan gusar menjilat bibirnya, merasakan kemarahan menguasai dirinya. Ingin rasanya ia menyeret gadis itu keluar dari ambang pintu, tapi sayangnya pintu sudah kembali tertutup bahkan sebelum dirinya mengatakan apapun.

Irene benar-benar bukan lawan yang mudah. Baekhyun tidak pernah menyangka kalau dirinya akan mendapatkan banyak kesulitan hanya karena ingin bicara baik-baik padanya. Tapi Baekhyun tidak menyalahkan kenapa gadis itu memperlakukannya dengan kasar. Mereka berdua sedang terlibat dalam suatu scandal. Mungkin dengan menghindari Baekhyun, Irene pikir dia bisa sedikit bernafas lega dan sementara terlepas dari hiruk-pikuk scandal yang menjeratnya. Tapi Irene tidak bisa selamanya menghindari Baekhyun. Mereka berdua harus bertemu dan membicarakan masalah ini dengan serius.

Decakan lelah kali ini meluncur dari mulut Baekhyun. Dia kembali berhadapan dengan pintu apartemen Irene, kembali menyerang pintu kayu tersebut dan memaksa si gadis untuk keluar. Sia-sia. Pintu kayu itu tak bergeming, meninggalkan Baekhyun berdiri di sana dengan kepala yang menggantung.

Beberapa saat kemudian matanya mengerjap, mengangkap lipatan koran kumal yang tergeletak tak jauh dari kakinya. Dengan malas Baekhyun meraih dan membuka halaman depan koran yang tadi dijadikan senjata oleh Irene untuk menamparnya.

“Baekhyun dan Irene Terlibat Cinta Lokasi?”— begitulah bunyi berita utama dari koran yang baru saja menyerang wajah Baekhyun. Di bawah judul yang di cetak dengan huruf tebal dan besar-besar, terdapat foto Baekhyun dan Irene terpampang besar di sana. Irene tersenyum tipis ke arah kamera, yang langsung Baekhyun kenali sebagai senyum palsu profesional. Foto itu di ambil beberapa hari yang lalu pada saat jumpa pers. Lalu yang tak kalah membuat perhatiannya tercuri adalah, ada sabuah foto– sedikit buram– terpampang di pojok garis artikel. Di bawah foto itu terdapat keterangan bahwa itu adalah foto Baekhyun dan Irene yang sedang bermesraan di dalam lift. Foto tersebut diambil pada hari yang sama setelah acara jumpa pers berlangsung.

Baekhyun terkekeh, dia tak menyangka bahwa tindakan bodohnya terekam kamera paparazzi. Waktu itu Irene sedang kesal padanya dan bersikeras untuk menghindarinya. Entah apa yang telah merasuki Baekhyun. Ketika gadis itu semakin bersikeras untuk mendorong Baekhyun pergi, maka Baekhyun akan semakin tertarik padanya. Itulah yang terjadi.

Selama ini Irene terus saja menghindari Baekhyun. Dia adalah selebritis yang baru saja debut beberapa bulan yang lalu di bawah agensi yang sama dengannya. Sebagai rookies, menjaga image, tingkah laku, termasuk terbebas dari segala scandal dan rumor adalah hal yang penting. Irene dikenal sebagai gadis yang pendiam dan suka menghindar dari lelaki. Bahkan dia secara pribadi meminta perusahaan untuk mengganti manejernya dari laki-laki menjadi manajer wanita. Baekhyun pikir itu adalah upayanya untuk menghindari rumor?

Mungkin saja, tapi dia terus saja menghindar dan memberi kesan bahwa dia membenci lawan jenis. Baekhyun sebelumnya mengira kalau gadis itu benci padanya. Ketika mereka bekerja di suatu acara yang sama, Irene terus mengabaikannya hingga lama-lama membuat Baekhyun jengah. Gadis itu membuatnya kesal namun di sisi lain dia juga membuat Baekhyun penasaran.

Irene sungguh berusaha keras untuk menjaga nama baiknya tetap bersih. Tapi, harus sampai kapan dia terus bermain aman?

Irene harusnya tahu bahwa usaha kerasnya untuk menjaga nama baiknya bersih akan menjadi sia-sia sejak hari dia bertemu dengan Byun Baekhyun. Karena, suatu saat Byun Baekhyun akan menyeretnya pergi dari zona aman dan membuatnya tersungkur dalam permainan pria itu.

Ya, Byun Baekhyun ingin sedikit bermain-main dengannya. Malangnya, tindakan bodohnya justru tertangkap lensa kamera dan keesokan harinya photo-photo dirinya dengan Irene tersebar luas di berbagai portal berita dan situs jejaring sosial. Jika di ibaratkan, meski Baekhyun menambahkan terlalu banyak garam pada masakannya, rasanya tidak berubah menjadi hancur tapi malah berubah menjadi enak. Meski Baekhyun akhir-akhir ini mengalami kesulitan karena scandal yang terjadi antara dia dan Irene, dirinya sama sekali tidak menyesal karena dengan begini permainannya akan berubah menjadi semakin seru.

“Kenapa kau tak mau membukakan pintu untukku?” kata Baekhyun, berbicara dengan ponselnya.

“Aku tak menginginkan kehadiranmu.” kata Irene ketus dari seberang telfon.

Baekhyun terkekeh, gadis ini sedang berusaha membuatnya kesal. “Apakah begitu caramu memperlakukan tamu? Dengan cara menamparnya dan mengusirnya?”

“Kalau kau tak mau pergi dari sini, aku akan memanggil keamanan.”

“Lalu, apa kau sama sekali tidak berpikir apa yang terjadi jika ternyata ada paparazzi di sekitar sini? Mungkin artikel berikutnya akan berbunyi ‘Baekhyun terpergok pergi ke rumah Irene malam-malam.'”

Baekhyun bisa mendengar Irene berdecak sebelum akhirnya sambungan telfonnya di putus secara sepihak. Ujung bibir Baekhyun tertarik keatas ketika dia mendengar kenop pintu dihadapannya berputar, lantas menampakkan sosok gadis cantik dengan mulut mengerucut.

“Apa maumu?” kata Irene, ekspresi kesalnya yang familiar sudah terpasang.

“Ada yang ingin aku bicarakan.”

“Bicaralah.”

“Tapi tidak di sini.” kata Baekhyun sambil memberi gesture agar Irene mengijinkan dirinya masuk.

Irene tahu kalau pria ini tidak akan sekedar mengajaknya berbicara basa basi. Secara terang-terangan, gadis bersurai coklat itu memutar matanya sampai akhirnya menatap iris mata hitam pria itu setengah galak, “Kalau begitu, pergi dari sini.”

Baekhyun sepertinya punya kemampuan membaca isi pikiran yang tersembunyi di balik tengkorak keras Irene. Belum sempat Irene mendorong pintunya kembali menutup, salah satu tangan Baekhyun sudah menghalangi daun pintunya. “Kau tak ingin paparazzi menangkap gambar kita yang sedang berdebat di depan pintu rumahmu bukan?” Baekhyun tersenyum tipis, yang lantas membuat perut Irene terbalik, “Coba tebak, apa judul headline selanjutnya jika itu benar-benar terjadi. Baekhyun mengajak Irene kencan? Baekhyun terpergok mengunjungi Irene? Baekhyun–.”

“Diam dan cepat masuk.” kata Irene, meninggalkan Baekhyun dan masuk kedalam apartemennya. Dia tak punya pilihan lain. Sejak scandal mereka berdua terungkap ke media, Irene merasa bahwa privasinya terancam pada batas sangat kritis. Dia terus saja merasa seseorang selalu mengikuti kemanapun dia pergi. Dan yeah, benar apa yang Baekhyun katakan, paparazzi bisa saja sedang bersembunyi di balik pot bunga yang ada di ujung koridor, berdiri di balik tikungan, atau sedang duduk di tangga darurat untuk diam-diam menunggu Irene keluar dari sarangnya.

Di sisi lalin, senyuman tipis Baekhyun berubah menjadi seringai yang lebar. Baekhyun pikir membujuk Irene agar mengijinkannya masuk adalah perkara yang sulit. Tapi sepertinya gadis itu tak sepintar yang dia pikirkan. Dia sangat polos dan lugu, gampang sekali dibodohi. Lihat? Ancaman murahan miliknya sudah berhasil membuatnya ketakutan.

“Katakan apa yang ingin kau katakan, dan segeralah pergi dari sini.” kata Irene, dia berdiri di tengah-tengah ruang tamunya dengan tangan terlipat.

“Sebenarnya,” Baekhyun mulai berjalan menyeberangi ruangan dan mendekati Irene, “Aku hanya ingin melihat keadaanmu.”

“Aku baik-baik saja.”

“Baguslah.” kata Baekhyun acuh tak acuh. Kini dia mulai duduk di salah satu sofa Irene, dan menyilangkan kakinya seolah dia adalah pemilik rumah.

“Kau membuang-buang waktumu hanya untuk menanyakan itu?” Irene mendengus tak percaya, “Kau benar-benar tak punya kerjaan.”

“Lantas kau sendiri?” kata Baekhyun, bermain-main dengan ujung bantal sofa Irene, “Apa kau tidak pergi bekerja? Manager-mu bilang kau tidak keluar dari rumah selama tiga hari. Apa kau ingin dipecat dari perusahaan?”

“A-aku tak punya jadwal syuting.” kata Irene, di akhiri dengan mengunyah bibir bawahnya.

Baekhyun tertawa menyusul jawaban Irene. Tawa renyahnya yang dingin memenuhi ruangan, tanpa alasan membuat bulu roma gadis itu berdiri. Entah kenapa, pria berparas tampan ini cukup mengerikan bagi Irene. “Kau tidak sedang ketakutan bukan?” Baekhyun masih terkekeh, “Sampai kapan kau mau mengurung diri di sini hah? Kau harus keluar, berjuang dan mengatasi masalah dari kenyataan hidup.”

“Kenyataan hidup katamu?” Irene tertawa hambar, “Mana ada kenyataan di luar sana? Semua yang tersisa adalah kebohongan dari scandal yang kau buat!”

Satu kata untuk Byun Baekhyun– keparat.

Ya, dia benar-benar keparat. Irene tak habis pikir kenapa pria ini masih bisa berlagak congkak setelah membuat masalah demi masalah di hidup Irene. Mulai dari rumor pacaran mereka, Baekhyun sama sekali tidak memberikan solusi. Irene-lah yang dengan susah payah berusaha membujuk perusahaan agensi mereka untuk mengadakan jumpa pers. Tapi setelah acara jumpa pers digelar, bukannya meluruskan kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka, Baekhyun malah membuat pernyataan ambigu yang dapat memancing beraneka opini publik. Dan lebih dari itu, yang paling membuat Irene tak mengerti, Baekhyun telah membuatnya terpojok hingga dengan lancang mencuri ciumannya. Naasnya, pada waktu itu ada seorang paparazzi yang sedang mengikuti Irene, dan scandal besar yang datang tak dapat mereka hindari.  Bukankah seharusnya Baekhyun kemari untuk minta maaf padanya? Tapi dia malah membuat Irene semakin kesal.

“Kebohongan?” kata Baekhyun lebih kepada diri sendiri. Beberapa saat dia diam, lantas tersenyum mengerikan, “Tapi publik tidak akan percaya kalau hubungan kita sebenarnya hanyalah kebohongan.”

Hah, lagi-lagi Baekhyun benar. Mereka sudah tertangkap basah. Meskipun sebenarnya Baekhyun dan Irene tidak menjalin hubungan apapun, tapi publik tidak akan mempercayai ucapannya jika dibandingkan dengan foto tangkapan wartawan nakal yang terlelah tersebar luas. Itu adalah bukti konkrit. Dan sayangnya tak ada hal yang bisa Irene lakukan selain diam dan sembunyi dari publik untuk sementara waktu.

“Apa keuntungan yang kau ambil dari scandal ini, hah?”

Ya, apa keuntungan yang Baekhyun ambil dari masalah ini? Dia mendapatkan hujatan dari fans-nya, dan dia juga mendapatkan cacian tajam dari fans Taeyeon– seseorang yang pernah digosipkan berkencan dengannya. Scandal ini juga tak memberikan image yang baik padanya dan acara yang sedang dia handle juga tak mendapat efek yang menguntungkan. Dan begitu pula dengan Irene. Yang dia dapatkan dari scandal ini hanyalah caci maki, ancaman, hujatan dan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya risih. Kalau Baekhyun tidak punya alasan bagus tentang ini, maka dia adalah pria yang benar-benar bodoh.

Baekhyun tiba-tiba berdiri dari sofa, membuat Irene sedikit terkejut. Pria itu tiba-tiba sudah berdiri dekat sekali dengannya, seolah ujung hidung Irene dengan mudah bisa menyentuh dadanya. “Keuntunganku dari peristiwa ini adalah,” Irene mundur satu langkah, mencoba menjaga jarak ketika Baekhyun berbicara, “Aku memenangkan permainan.”

Irene memiringkan kepalanya ke salah satu sisi, “Apa yang kau maksud?”

“Aku tahu apa yang ada di pikiranmu.” kata Baekhyun, tapi malah membuat Irene tak mengerti.

“Omong kosong.”

“Aku tahu kau selama ini terus menghindari para pria karena menjaga dirimu jauh dari scandal.” kata Baekhyun, suaranya terdengar tenang tapi entah kenapa Irene merasakan pria ini akan berucap berbahaya pada kalimat selanjutnya, “Tapi sayangnya kau tidak bisa terus-terusan menghindari para pria, Irene. Suatu saat kau membutuhkan mereka dan mereka juga menginginkanmu.”

“Apa katamu? Kau tidak boleh–.”

“Kau selama ini bekerja sangat keras untuk membuat dirimu terkenal bukan?” potong Baekhyun, matanya yang tajam mencoba melubangi kepala Irene, “Dan aku sudah membuatmu terkenal.”

Mata Irene membulat, “Aku tidak ingin terkenal dengan scandal kotor semacam ini!” katanya geram. “Dan, apa kau bilang? Permainan? Jadi semua ini kau lakukan hanya untuk bersenang-senang? Kau melakukan ini hanya untuk mempermainkanku? Menghancurkan diriku? Dan juga karirku?!” Irene mendengus marah, ganti menatap Baekhyun dengan murka, “Kau benar-benar tidak bisa dipercaya.”

Baekhyun diam saja, menyusul ledakan kemarahan Irene. Dia hanya ganti membalas tatapan Irene dalam diam dengan mimik wajah yang susah di artikan.

“Kenapa kau sulit didekati?” kata Baekhyun pelan.

“Apa?”

“Kenapa kau tak pernah memperlakukanku dengan baik?”

“Kau–“

“Kenapa kau berlaku dingin dan tertutup kepadaku?”

“Byun Baekhyun apa yang–,”

“Dan kenapa kau terlihat cantik ketika kau marah.”

Kalimat terakhir Baekhyun sukses membuat rahang Irene jatuh terbuka. Gadis itu tiba-tiba kehilangan kata-kata yang sudah menggantung di ujung lidahnya. Pria ini tiba-tiba berkata-kata aneh yang sukses membuatnya bungkam dan terlihat bodoh.

“Kau tadi bertanya, apa keuntungan diriku membuat scandal yang justru bagimu terlihat menyusahkan? Kau ingin tahu kenapa aku justru senang ketika scandal ini terungkap ke publik? Kau ingin tahu betapa senangnya aku ketika perusahaan sepakat membuat sekenario bodoh tentang hubungan kita?” Baekhyun menghentikan kata-kata panjangnya, lantas mengangkat tangannya untuk meraih sisi wajah Irene yang kini berubah menjadi padam.

Di sisi lain, Irene hanya diam. Di otaknya berkelumit kemungkinan paling buruk dan berharap bahwa Byun Baekhyun yang ada di depannya hanyalah ilusi. Dia ingin Baekhyun pergi dari hadapannya dan menghentikan sentuhan jari-jari panjangnya yang dengan lembut mengukur kulit wajahnya. Irene rasanya ingin sekali melompat dari jendela, pergi jauh sejauh mungkin dari Baekhyun tapi sayangnya kini tubuhnya berubah menjadi bongkahan batu.

“Kau ingin tahu alasannya?” lanjut Baekhyun, kini ibu jarinya menyentuh ujung bibir Irene, “Karena aku ingin menang. Aku ingin menang dari permainan yang telah kau ciptakan Irene. Selama ini kau telah membuat permainan yang sulit aku atasi. Kau selalu bermain aman dan aku tak suka itu. Aku tahu kau tidak akan berani berkencan dengan seseorang dengan status selebriti yang kau sandang. Maka dari itu, di sinilah aku. Masuk kedalam permainanmu dan membuat aturan permainanku sendiri.”

Baekhyun kembali berjalan mendekat, mempersempit jarak keduanya hingga Irene bisa merasakan aroma maskulin pria itu menyeruak hidungnya.

“Dan sekarang, aku sudah menciptakan permainan dimana kau juga harus bermain di dalamnya Irene. Kau tidak bisa mengelaknya. Kau tidak bisa selamanya bersembunyi di sini. Kau harus keluar, dan menghadapi permainan yang telah kau ikuti.” Baekhyun tersenyum miring, sukses membuat ledakan kembang api di perut Irene, “Kau harus bermain sampai selesai.”

Irene menepis tangan Baekhyun agar menjauh dari wajanya, lalu mendorong dada pria itu ketika Baekhyun mulai menunduk ingin meraih bibirnya. “Kau sudah menghancurkanku, membuat hidupku porak-poranda, dan kau juga sudah menghancurkan karirku. Lantas apa lagi yang kau inginkan dari ku, hah?!”

Baekhyun kembali tersenyum mengesalkan. Dia menyisir rambut hitamnya ke belakang dan menghela nafas panjang, tertarik dengan situasi yang baru saja ia ciptakan. Baekhyun tahu kalau Irene sebenarnya takut dengannya.

“Yang aku inginkan adalah kau.”

“Kau sungguh tak dapat dipercaya.”

“Aku juga tak mempercayai diriku.” kata Baekhyun, menggaruk pelipisnya, “Tapi entahlah, aku ingin mendapatkan dirimu karena sepertinya suatu saat aku akan membutuhkanmu.”

“Aku tak dapat mempercayaimu.” kata Irene, sebisa mungkin menjaga mulutnya agar tidak mengumpat kotor. Dia benar-benar membenci pria ini dan entah sudah kesekian kalinya dia ingin sekali menendang tulang keringnya.

“Kau pikir, ciuman yang aku curi di lift hanya pura-pura bagimu?” Baekhyun mengangkat salah satu alisnya, mengunggu reaksi Irene, tapi si gadis hanya diam saja, “Kau pikir aku tahu ada paparazzi yang memergoki kita? Tidak. Aku sama sekali tidak tahu. Ini semua di luar kendaliku. Tapi–,” Baekhyun kembali tersenyum tipis, yang justru membuat Irene muak, “Aku suka situasi ini. Mereka membuat permainan semakin seru. Dengan begitu semua orang tahu kalau kau adalah milikku.”

Tanpa Irene sadari, kedua tangannya sudah terkepal kuat ingin sekali meninju hidung Baekhyun hingga bengkok. Irene kehilangan kata-katanya dan hanya bisa menikmati sensasi aneh yang kini menjalar ke seluruh tubuhnya. Daranya terasa berdesir cepat hingga ke pembulunya yang paling ujung. Ibu jari kakinya mengeriting, ikut merasakan ketegangan yang menguasai dirinya. Lebih dari itu, jantungnya bertalu keras sekali seolah ingin mendobrak jeruji rusuknya. Wajahnya merah padam, bibirnya terasa sakit karena terlalu keras ia kunyah. Gadis ber iris coklat itu marah bukan main.

“Aku pergi,” kata Baekhyun sambil berjalan mundur, senyumnya yang mengesalkan masih terpasang di wajahnya. Sepetinya dia tahu kalau Irene akan meledak, “Kalau kau tak mengikuti permainanku, aku akan membuat keadaan semakin buruk.” katanya lalu pergi meninggalkan ruangan.

“Sampai ketemu di tempat kerja, sayang!” seru Baekhyun untuk yang terakhir kalinya, sampai akhirya ia mendengar pintu depan terbuka lalu tertutup kemudian.

Kesal. Irene menghempaskan dirinya ke atas sofa, lantas melempari bantal-bantal sofa ke seluruh ruangan. Dia bisa gila jika terus-terusan berhadapan dengan pria itu. Dan apa katanya tadi? Dia menginginkan Irene? Dia menganggap Irene sebagai miliknya? Dia pikir Irene sebuah properti?

Irene mendengus keras, lantas memijat keningnya. Dia merasa pusing tiba-tiba karena Baekhyun tak memberikan dirinya opsi lain. Mau tak mau Irene harus ikut masuk kedalam permainannya. Dan kalian dengar apa yang tadi pria tengik itu katakan? Dia akan membuat keadaan semakin parah jika Irene mencoba menghindarinya. Jadi apakah itu berarti Baekhyun akan membuat permainan yang lebih buruk ketimbang sekarang ini?

Tak ada kata-kata umpatan yang tepat untuk Byun Baekhyun. Dia bukan manusia yang waras. Bagaimana bisa Irene bertahan menghadapi permainan Baekhyun yang sepertinya makin hari akan semakin menyusahkannya ketika untuk menghadapi Baekhyun sendiri Irene butuh kekuatan lebih? Irene sungguh tak sabar melihat permainan Baekhyun berlanjut.

Sungguh.

-fin-

Ah, akhirnya aku bisa update sequel Excuse. Excuse sepertinya akan menjadi series selanjutnya di Writing Prompt. (Tapi lagi-lagi aku tidak bisa janji cepat-cepat update, atau malah ngga update karena ngga ada ide ^^V). Kunjungi halaman masterlist Writing Prompt untuk melihat index series writing prompt yang telah aku buat. Terimakasih sudah mau menunggu. Dan saya tunggu feedback-nya 🙂

Regards ilachan.

Iklan

53 thoughts on “[Writing Prompt] Game

  1. Isshh baekhyun mah jailnya parah… kayaknya suka deh baekhyun sama irene…
    Seneng banget sama ini couple….

Tell me

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s