[Writing Prompt] Shades of Grey

shadesofgrey

100 Challenge Writing Prompts:
Shades of Grey from Excuses series

Baekhyun / Irene || Romance, Slice of life || One shot || G
Summary:  Dia membawa kedua warna tersebut bersamaan hingga terbentuklah sebuah bayangan abu-abu yang misterius.

Previous:
Excuses -> Game -> Shades of Grey

ilachan@2015


“Irene, kau baik-baik saja?” kata Manajer-nya. Tak dapat di pungkiri kalau wajahnya menyiratkan rasa iba ketika gadis bersurai panjang itu membanting punggungnya ke kursi belakang mobil.

“Aku hanya sedikit pusing, unni.” kata Irene, sambil memijat keningnya. “Kita pulang jam berapa?”

Manajernya tak bisa berkata apa-apa lagi. Dia merasa kalau tak seharusnya Irene bersikeras untuk berpura-pura di depannya, karena sebenarnya dia lah yang paling mengerti bagaimana keadaan Irene yang sebenarnya. Gadis itu sudah bekerja mulai pagi hingga malam. Mulai pagi-pagi sekali manajernya dan dia sudah ada di lokasi shooting dan pergi ke berbagai jadwal yang beberapa hari ia tunda.

Kalau saja hanya badannya yang lelah, setelah istirahat beberapa jam Irene akan kembali segar dan bersemangat. Tapi sayangnya kini bukan hanya badannya saja yang kelelahan, tapi pikiran dan hatinya juga ikut lelah. Rumor tentang dirinya yang beredar akhir-akhir ini benar-benar menguras banyak emosi dan tenaganya.

“Kita harus menunggu Seulgi selesai dengan pemotretannya.” kata sang Manejer setengah menyesal, “Kira-kira kurang satu jam lagi.”

Irene dengan kasar menyandarkan kepalanya lalu memjamkan matanya lelah. Satu jam adalah waktu yang lama. Belum lagi saat ini dia merasa pusing. Dia sungguh ingin cepat-cepat pergi dari sana dan beristirahat lebih awal karena besok pagi jadwal gila kembali menyambutnya.

“Apa kau menginginkan sesuatu?” kata Manejernya buru-buru ketika ia melihat ekspresi Irene yang tak bagus.

“Aku ingin tidur, unni.” kata Irene, matanya sudah terpejam.

“Di mobil? Sendirian?” Manajernya hampir saja meneriakinya. Tidur di mobil sendirian bukanlah ide yang bagus. Bayangkan saja seorang artis berada di mobil yang tak terkunci dan tanpa penjagaan ketat. Siapapun bisa datang ke parkiran basement. Entah itu orang lain atau bahkan sasaeng fan sekalipun. Belum lagi dengan scandal tentang dirinya yang sedang ramai di bicarakan membuat artis yang ada di bawah bimbingannya itu menjadi sasaran empuk wartawan. Lagi pula, sekarang sudah larut dan meninggalkan gadis ini sendirian di parkiran basement tentu keputusan yang bodoh. “Kalau kau ingin tidur, kau bisa istirahat di ruang make up.”

Irene berdecak keras sebelum Manajernya ber-khotbah panjang tentang betapa bahayanya ada di parkiran basement seorang diri atau semacamnya, “Unni, aku akan baik-baik saja. Di ruang make up terlalu berisik. Aku tidak bisa tidur di sana.”

“Tapi kau–“

“Astaga, aku hanya mau tidur.” kini Irene merengek. Dia benar-benar sudah lelah dan tidak ingin sisa tenaganya ia gunakan untuk berdebat dengan Manajernya. Irene tak lagi mengacuhkannya. Bahkan saat ini gadis itu duduk memunggungi pintu, mengabaikan Manajernya yang membuka mulutnya tak percaya. Gadis ini sudah tidak bisa di atur lagi.

“Terserah kau kalau begitu,” katanya menyerah, menurunkan kaca jendela tak sampai setengah jalan lalu menutup pintu di belakang Irene, “Aku akan kembali beberapa menit lagi, membawakanmu minum.”

Irene mengangguk asal, kembali menenggelamkan kepalanya ke sandaran kursi mobil yang sebenarnya kurang nyaman. Matanya kembali terpejam ketika ia mendengar langkah kaki Manajernya semakin menjauh dari mobil, meninggalkannya sendiri.

Irene tidak perlu menghitung domba di benaknya. Dia tidak perlu mendengarkan musik sebagai pengantar tidur. Dan dia juga tidak butuh cara-cara khusus untuk membuatnya cepat terlelap karena suasana sepi parkiran basement sudah seperti lagu nina bobo untuknya. Dan belum lagi lampu neon putih yang nyalanya remang-remang cocok sekali untuk dijadikan lampu tidur baginya.

Kalau di pikir-pikir bukankah situasi yang sedang terjadi pada Irene saat ini mengerikan? Bayangkan saja, seorang diri di parkiran yang sepi dengan penerangan remang bukankah hampir sama dengan setting-an yang biasanya muncul di film-film horror? Kalau saja otak Irene masih bisa berjalan normal, dia pasti akan berpikir dua kali untuk tidur sendirian di mobil. Dia tipikal gadis yang penakut, sebenarnya. Tapi persetan dengan setan, Irene sudah terlalu lelah dengan kemungkinan konyol yang sering muncul di film-film karena dirinya saat ini lebih mementingakan tidurnya lebih dari apapun.

Sekali lagi, dia baru saja melewati hari panjang yang melelahkan. Sebenarnya dia sudah terbiasa dengan jadwal padat yang dia mulai dari pagi hingga larut, kejar-kejaran waktu shooting antar jadwal satu dengan lainnya, bahkan jadwal bentrok pun sudah biasa bagi dirinya. Kalau biasanya dia lelah ingin cepat-cepat tidur, kali ini Irene merasa muak dan ingin mati saja. Bagaimana tidak? Hari ini adalah hari pertama dia bekerja sejak scandal-nya bersama Byun Baekhyun terkuak ke media. Tentu bisa di bayangkan betapa sengsaranya Irene hari ini karena terlah di kacaukan jadwal gilanya dan sambutan tak hangat para penggemarnya.

Sindiran, makian, bahkan cibiran yang langsung dialamatkan padanya tak sekali ia dengar. Tapi masih saja demi kualitas dan profesionalitas kerja, dia harus tetap tersenyum di depan kamera. Dia harus tetap berlagak baik-baik saja meski beberapa haters-nya sedang berencana untuk membunuhnya.

Itulah kenapa Irene terlihat berkali-kali lipat lebih lelah dari pada biasanya. Dia sebenarnya sudah tak tahan lagi tapi dia tak punya pilihan lain. Dia harus bertahan menghadapi kenyataan, berjalan dengan dagu yang tegak, demi memenangkan permainan yang telah Baekhyun buat untuknya.

Ngomong-ngomong soal Baekhyun, Irene sedari tadi tidak bertemu dengannya sama sekali. Kebetulan hari ini mereka berdua bekerja di tempat yang berbeda. Padahal biasanya mereka akan saling bertemu, bertatap muka, atau paling tidak berpapasan di koridor gedung perusahaan. Tentu saja, sehari tanpa Byun Baekhyun membuat Irene lebih terasa ringan. Tanpanya Irene merasa aman, tak ada yang mengawasinya dengan tatapan tajam, dan tak ada yang membuatnya kesal dengan senyuman miring yang culas. Harus Irene akui, tanpa Baekhyun hari beratnya terasa lebih ringan. Dan dengan tidur ala kadarnya kali ini, dia berharap bisa melupakan masalahnya dan Baekhyun sejenak.

***

Seingat Irene, beberapa saat yang lalu dia terlelap di kursi belakang mobil. Entah apa yang tiba-tiba terjadi, kali ini dia mendapati dirinya berdiri di bibir pantai. Ombak kecil yang berlari di sepanjang pantai menjilati ujung kakinya yang tanpa alas. Dia merasa senang, apalagi ketika ia bermain-main pasir putih dengan jari-jari kakinya.

“Aku mencarimu kemana-mana.” kata seorang gadis yang tiba-tiba muncul di sampingnya.

“Kenapa kau harus mencariku Seulgi?”  kata Irene, kakinya merasakan tabrakan ombak yang lebih keras dari pada sebelumnya.

“Kita harus pergi dari sini,” kata Seulgi, wajahnya berubah Serius, “Ini bukan tempat yang aman.”

“Apa maksudmu?”

“Lihat!” Seulgi mengarahkan telunjuknya ke arah lautan lepas di hadapan mereka. Dari kejauhan Irene bisa melihat bayangan awan hitam melayang di atas air, mengiringi ombak yang menggulung panjang. Tidak. Itu bukan ombak biasa, itu adalah ombak berukuran supermassive. Beberapa saat Irene tidak yakin apa yang ia lihat, sampai akhirnya dia merasakan tak ada lagi buih ombak yang menjilati kakinya. Semua air berlari ke tengah segara, berkumpul di satu energi yang sebentar lagi di lepaskan untuk menghancurkan pantai.

“Ayo lari!” kata Seulgi, mulai berlari menarik Irene. Mereka berlari lamban sekali padahal rasanya Irene sudah mengerahkan semua tenaganya hingga rasa-rasanya ia tak lagi memijak tanah. Seulgi membawanya ke bukit karang dan mendorongnya ke sebuah lubang di antara celah tebing karang. Itu adalah gua.

Irene tersungkur di lantai karena Seulgi mendorongnya terlalu keras. Dia pikir dia akan terluka dan kotor di lantai batu, tapi ternyata Irene mendapat dirinya duduk bersimpuh di koridor sebuah motel.

“Kau tidak apa-apa?” kata seseorang, meraih lengan Irene dan membantunya bangun dari karpet kodidor.

“Aku baik-baik sa–Byun Baekhyun?”

Pria itu belum melepaskan cengkramannya dari Irene. Mata sipit yang biasanya ia gunakan untuk melubangi kepala Irene, kini ganti penatapnya dengan pandangan ter-Innocent yang dia punya.

“Apa yang kau lakukan Byun Baekhyun?” kata Irene, siap mengancam, “Lepaskan aku!”

“Kau harus menjawab pertanyaanku sebelum akhirnya aku lepaskan.” kata Baekhyun, tahu-tahu salah satu tangannya sudah membelai sisi wajah Irene.

“Apa itu?” kata Irene kurang sabar, sambil terus berusaha melepaskan lengannya dari cengkraman Baekhyun.

“Kenapa kau membuatku bimbang, Irene?” kata Baekhyun dengan nada diulur-ulur, salah satu tangannya yang tadi membelai sisi wajah Irene kini bermain-main dengan rambutnya, “Kenapa kau membuatku berdiri di bayangan abu-abu?”

“Abu-abu?” tanya Irene, sama sekali tak mengerti, “Apa maksudmu?”

“Hanya kau yang tahu.” kata Baekhyun suaranya semakin jelas, dan tangan Baekhyun yang mengusap pipinya dengan halus lama-lama terasa padat.

Irene menggeliat di tidurnya, merasakan lehernya sedikit sakit karena posisi tidur yang salah. Tentu saja, tidur dalam posisi duduk tidak pernah membuatnya nyaman. Setiap kali Irene terbangun dari tidur dalam posisi duduk, selalu saja ada bagian di tubuhnya yang kesakitan. Entah itu lehernya yang pegal, pinggangnya yang sakit, atau pundaknya yang kaku. Tapi kali ini dia tidak terlalu memperhatikannya. Dia sudah lelah mengurusi lehernya yang sakit karena yang terpenting untuk Irene kali ini adalah melanjutkan tidurnya.

Irene bergerak sebentar tanpa membuka mata, lalu kembali tertidur pulas. Dia ingin tidur. Dia ingin lelahnya menghilang. Dia ingin melupakan masalahnya untuk sementara dan beberapa saat kemudian dia kembali merasakan tangan seseorang kembali meraih sisi wajahnya, sama seperti bagaimana Baekhyun tadi mengusap sisi wajahnya di dalam mimpi.

Tapi ini berbeda dari yang sebelumnya. Rasanya Irene bisa merasakah berapa padatnya tangan yang menyentuh kulit wajahnya. Terlebih lagi, dia bisa merasakan suhu tangan yang kini bermain-main dengan rambut di sisi wajahnya.

Tunggu sebentar! Ini bukan mimpi!

Gerogi,  Irene membuka matanya dan menemukan dirinya masih duduk di dalam mobil tepat seperti dia sebelum tidur. Bedanya kali ini dia tidak sendirian. Ada seseorang yang duduk di sampingnya– duduk dekat sekali dengannya– yang baru ia sadari bahwa dirinya sedang bersandar di dadanya. Ketika Irene menyadarinya, dengan cepat gadis itu duduk tegak. Secara naluriah dia reflek ingin berteriak tapi tangan orang itu tiba-tiba sudah mendekap mulutnya, dan tangan satunya lagi sudah melingkar di pundaknya.

Dia siapa? Irene berpikir panik.

Suasana mobil yang hanya mendapat sedikit pencahayaan dari lampu neon parkiran, ditambah dengan mata lelah Irene yang belum bisa terfokus dari tidurnya, membuat Irene susah menebak siapa orang yang sedang menangkapnya. Apakah dia sasaeng fans? Apakah dia akan menculik Irene? Apa yang akan orang ini lakukan?

“Ssstttt! Tenang! Ini aku.” kata orang itu dan Irene berhenti melawan. Dia tak lagi berniat berteriak karena dia mengenali suara itu.

“Aku akan melepaskanmu, tapi kau jangan berteriak.”

Irene mengangguk cepat dan tangan-tangan orang itu langsung melepaskannya, “Apa yang kau lakukan di sini?”, panik masih menjalar di sekujur tubuh Irene. Gadis itu langsung mundur sejauh mungkin darinya, yang malah mengundang tawa lawannya.

“Apa aku mengejutkanmu?” kata pria itu, jelas-jelas menganggap Irene lelucon.

“B-byun Baekhyun…”, Irene memijat keningnya. Kepalanya terasa pusing dan matanya masih belum bisa terdokus apalagi di dalam keadaan remang ini. Jantungnya masih berdetak cepat sekali, rasa terkejutnya masih belum habis. Belum lagi dengan kelebatan mimpi yang baru saja ada di tidurnya tiba-tiba berubah menjadi kenyataan, membuat Irene ngeri setengah mati. Di dalam mimpinya Irene bermimpi Baekhyun mengatakan pertanyaan aneh dan mengusap sisi wajahnya. Tapi siapa sangka kalau ternyata Baekhyun di dunia nyata juga melakukan hal yang sama padanya ketika ia masih terlelap.

Tapi, apa yang dia lakukan di dalam sini?

“K-kenapa kau disini?” Irene merasa takut karena ada Baekhyun tiba-tiba muncul di sampingnya dan mendapati dirinya terlelap di dadanya. Dia merasa takut karena dia bermimpi aneh dan berubah menjadi kenyataan. Dia merasa takut kalau sekarang dirinya terpojok seorang diri. Itulah alasan kenapa Irene tergagap dan mundur hingga punggungnya melawan pintu mobil.

“Aku menemanimu tidur.” katanya enteng, yang sama sekali tak membantu meredakan rasa takut Irene.

W-wae?” Irene menggigit bibir bawahnya. Sial. Kenapa dia masih saja tergagap, “Bagiamana bisa kau menemunkanku?”

Baekhyun tersenyum simpul. Meski cahaya remang yang menyelimuti mereka, Irene bisa tahu mimik wajah yang sedang Baekhyun buat. “Aku melihat manajermu kembali tanpa dirimu jadi aku pikir kau di sini. Aku menghawatirkanmu.” kata Baekhyun yang malah membuat dirinya bingung. Bagaimana bisa Baekhyun mengkhawatirkannya? Di dalam hati Irene tertawa. Ini pasti akal-akalan Baekhyun untuk mempermainkannya. Atau jangan-jangan Irene masih bermimpi? Apa dia sedang mengigau?

Wwaeyo?”

“Bagaimana bisa kamu tidur sendirian di sini, bodoh!” Baekhyun tiba-tiba meledak membuatnya berjengit. Lebih dari itu dua jari pria itu tahu-tahu sudah meluncur di dahi Irene, membuat belakang kepala Irene terbentur kaca jendela mobi. Irene berdesis sakit, dan kini dia sadar bahwa Baekhyun yang ada di hadapannya bukanlah bagian dari mimpinya, “Bagaimana kalau ada yang melukaimu? Kau seorang diri disini, apa kau tak khawatir?!”

“Satu-satunya orang yang aku khawatirkan adalah kau.”

“Apa?!”

“Pergi dari sini Byun Baekhyun! Kali ini aku tak mau bertengkar denganmu.” kata Irene,  memijat pangkal tulang hidungnya, lantas kembali bersandar di kursi. Kali ini dia mengabaikan wajah Baekhyun yang keheranan dan mencoba menutup matanya kembali. Irene menghela nafas panjang dan mencoba untuk tidur lagi. Dia benar-benar bertekat untuk tak mengacuhkan Baekhyun karena sekarang dia sudah terlalu lelah, mengantuk, pusing dan sakit untuk meladeni Baekhyun.

Beberapa saat Baekhyun tidak percaya bahwa Irene benar-benar mengabaikannya. Padahal biasanya gadis itu tak akan berhenti mengusir Baekhyun sebelum pria itu menghilang dari pandangannya. Irene benar-benar kembali tidur. Entah dia sudah pulas ataukah hanya berpura-pura menutup matanya, yang jelas gadis itu tidak peduli lagi dengan kehadiran Baekhyun.

Di sisi lain, Baekhyun hanya diam dan melihat sosok gadis cantik itu tidur. Meski dalam keremangan, Baekhyun masih bisa melihat pergerakan-pergerakan kecil yang dilakukan tubuh Irene. Baekhyun melihat beberapa untai rambut jatuh dari sisi wajahnya, memperlihatkan lekuk rahang dan dagunya yang menarik. Lentik bulu mata palsunya membuat  dirinya tampak cantik ketika kelopak matanya terpejam. Bentuk hidungnya yang tajam, terlihat sempurnah jika di lihat dari samping. Mulutnya sedikit terbuka, membuatnya tampak lucu. Dan kulit pipinya berwarna pink, tampak lembut dan chubby.

Tanpa Baekhyun sadari jarinya sudah meraih sisi wajah Irene. Dia tidak bisa menahannya karena ada sesuatu dari Irene yang membuatnya tertarik. Bagaimana bisa gadis ini malah membuat dirinya tertarik ketika dia jelas-jelas menolak Baekhyun. Bagaimana bisa Baekhyun datang padanya ketika dengan tegas Irene mengusirnya. Segala sesuatu yang Irene perintahkan pada Baekhyun, malah Baekhyun lakukan sebaliknya. Entah karena Baekhyun ingin membuatnya kesal atau apa, tapi Baekhyun tak bisa memungkiri kalau gadis ini menyita banyak perhatiannya.

Jari-jari panjang Baekhyun kini membelai wajah Irene, bergerak dan mengukur setiap inci kulit wajahnya. Ibu jarinya dengan lembut bergerak di bibirnya, mau tak mau membuat pria itu ingat betapa kesalnya Irene padanya ketika dia mencuri ciumannya. Jarinya bergerak lagi, membelai rambutnya sebelum akhirnya ia selipkan diantara daun telinganya. Jarinya belum berhenti di sana, kali ini Baekhyun menyentuh keningnya dan dia merasakan ada hal yang berbeda dari Irene.

Baekhyun mengernyit, dan kembali menatap wajah gadis itu dalam diam. Ternyata dugaannya benar. Hari ini Irene kurang enak badan dan itulah kenapa gadis itu terlihat lebih lelah dari pada biasanya. Baekhyun kembali menyentuh keningnya dan membandingkan suhu tubuh miliknya sendiri. Demamnya tidak terlalu parah tapi tentu kesehatannya yang tidak maksimal jelas mengganggunya seharian.

“Harus sampai kapan kau menatapku?” kata Irene masih dengan mata terpejam, membuat Baekhyun sedikit kaget.

“Kenapa kau tidak bilang kepada Manjermu kalau kau sakit?”

“Aku baik-baik saja.” kata Irene, meski suaranya mengatakan hal yang sebaliknya.

“Kau harus mengambil cuti.”

Irene tersenyum hambar lantas berkata, “Kau bukan bosku. Jadi, berhentilah mengaturku.”

Irene bisa mendengar Baekhyun berdecak kesal lalu beberapa saat kemudian tanpa ia sangka pria itu berkata lebih lantang dari biasanya, “Aku menghawatirkanmu, bodoh!”

Baekhyun rasa, ia berbicara terlalu keras dari pada yang seharusnya. Gadis bersurai panjang yang mulanya duduk tenang dengan mata terpejam, kini sudah duduk tegak dengan mata lelah yang membalas tatapannya. Jelas-jelas Irene terkejut dengan kalimat terakhir Baekhyun. Entah tentang kalimatnya atukah suara Baekhyun yang nyaring mengganggu tidurnya.

Beberapa saat keduanya hanya saling bertukar pandang dalam keremangan. Baekhyun menatap Irene dengan tatapan bingung dan was-was, takut kalau gadis itu tiba-tiba balik berteriak di wajahnya. Tapi di sisi lain, Irene hanya diam. Dia tak melakukan apapun selain berkedip beberapa kali sebelum akhirnya berkata pendek, “Kau benar-benar membingungkan.”

Ya, Baekhyun benar-benar membuat Irene bingung. Sebenarnya apa yang di inginkan pria itu? Dalam sekejap mata Baekhyun bisa merubah cuaca cerah menjadi badai. Dia bisa merubah angin sepoi-sepoi menjadi badai tornado. Dia bisa merubah ombak kecil menjadi tsunami. Dia bisa berubah menjadi malaikat dari iblis. Dan dia tiba-tiba bisa berubah menjadi baik hati padahal melihat Irene sengsara adalah kesenangannya.

Kenapa dia bipolar*  begini?

Baekhyun adalah satu-satunya orang kehormatan yang menyandang gelar musuh bagi Irene. Pria itu tidak pernah tanggung-tanggung membuatnya kesal dan marah. Irene pikir membuat dirinya sengsara adalah hobby barunya, mengusik hidup Irene adalah misinya, dan menghancurkan karir Irene adalah visinya. Pria itu adalah duplikat sempurna dari Iblis. Lalu, bagaimana bisa dia berkata kalau dirinya mengkhawatirkan Irene? Bagaimana bisa dia bisa berubah menjadi malaikat yang baik hati? Dia tiba-tiba berubah menjadi ombak kecil setelah menjadi tsunami. Dia berubah menjadi lunak setelah bertingkah laku keras. Bukankah itu sudah bisa membuktikan bahwa dia itu bipolar?

“Aku harus pergi.” kata Baekhyun tiba-tiba sambil mellihat sesuatu di belakang kepala Irene. Irene memutar lehernya, melihat apa yang membuat Baekhyun ingin pergi. Dari balik kaca mobil, Irene bisa melihat Manajernya sudah kembali bersama Seulgi. Mereka berdua berjalan terburu-buru sambil membawa beberapa tas perlengkapan. Tapi ketika Irene kembali menghadap Baekhyun, pria itu masih duduk di sampingnya dengan ekspresi kaku. Bukankah dia mau pergi?

“Aku mau memberikan ini padamu.” Baekhyun menarik sebuah kantong plastik dari saku jaketnya dan melemparnya ke pangkuan Irene. Dahi gadis itu langsung mengkerut bingung ketika ia melihat apa isinya.

“Kau harus meminumnya secara rutin dan jangan lupa kau minum sebelum makan.” kata Baekhyun, membuka pintu mobil sisi yang lain.

“Kenapa kau–“

“Perform mu hari ini payah sekali. Kau harus tetap sehat.” kata Baekhyun, bersiap turun dari mobil. Tapi sebelum kaki Baekhyun menginjak lantai, Irene tiba-tiba mencegahnya pergi.

“Baekhyun tunggu sebentar!”

Baekhyun menghentikan gerakannya tepat berada di ambang pintu, memutar tulang leher ala kadarnya, hingga membuat Irene bisa jelas melihat siluet sisi wajah pria itu, “Ada apa lagi?”

Sungguh banyak sekali pertanyaan yang berkelumit di kepala Irene tentang kenapa Baekhyun tiba-tiba bersifat baik padanya. Irene ingin menanyakan ini karena Irene bingung dengan sifatnya. Di saat yang bersamaan Baekhyun menjadi orang jahat dan orang yang baik padanya. Kalau Irene pikirkan sekali lagi, kalau dia tak tersangkut scandal semacam ini dengan Byun Baekhyun, Irene tak akan pernah terbuka dengan media dan– sial, benar apa yang Baekhyun katakan– harus Irene akui kalau banyak orang yang mengenalnya karena scandal ini. Dengan kata lain Irene tertimpa musibah yang membawa berkah. Baekhyun membuatnya sial tapi juga memberinya keuntungan. Baekhyun membuat harinya suram tapi juga cerah di saat bersamaan. Baekhyun memberi hidupnya warna hitam tapi juga ada warna putih yang mengiringi.

Itulah alasan kenapa Baekhyun membuatnya bingung. Pria itu tidak membawa warna hitam saja dan tidak membawa warna putih saja kepadanya. Dia membawa kedua warna tersebut bersamaan hingga terbentuklah sebuah bayangan abu-abu yang misterius. Irene tidak bisa mengkategorikan bayangan abu-abu ini sebagai bayangan gelap karena dia berbeda dengan hitam. Tapi Irene juga tidak bisa menyebut bayangan abu-abu ini sebagai sinar yang cerah karena dia jauh berbeda dengan putih. Irene tidak bisa menyebut Baekhyun pria jahat karena dia sebenarnya tak sepenuhnya jahat padanya. Tapi Irene juga tidak bisa menyebut mengkategorikan Baekhyun sebagai pria yang baik karena dia memang tak benar-benar baik padanya.

Lalu siapa dia sebenarnya?

“Kenapa kau berdiri di bayangan abu-abu?”

Kali ini Baekhyun berputar dan kembali berhadapan dengan Irene. Dalam diam Irene memperhatikan wajahnya yang kaku tanpa ekspresi kembali menatapnya. Beberapa saat Baekhyun hanya diam saja, tak mengatakan hal apapun yang justru membuat Irene bingung. Apakah dia mengerti pertanyaan Irene? Apakah dia tahu maksudnya? Lantas apa yang membuat Baekhyun diam terlalu lama. Apakah dia sedang berpikir?

“Aku juga tidak tahu.” kata Baekhyun tiba-tiba, lantas melompat turun dari mobil bertepatan dengan dibukanya pintu mobil di sisi lain. Manajer dan Seulgi sudah tiba di mobil, sedangkan Baekhyun sudah pergi dari mobil dan berhasil membuat wajah kebingungan Irene menggantung.

Aku juga tidak tahu.

***

“Aku tidak tahu.” guman Baekhyun, mengencangkan tangan di ban kemudi.

Mata pria itu tampak kosong meski saat ini dia masih menatap lurus jalanan yang ada di hadapannya. Pertanyaan terakhir Irene membuat pikirannya sedikit penuh. Bukan karena dia tak mengerti dan bukan karena dia tak tahu maksudnya. Baekhyun merasa bingung dengan pertanyaan Irene karena pertanyaan itu sangat tak asing di telinganya.

Bagaimana tidak? Itu adalah pertanyaan metafora yang beberapa saat yang lalu Baekhyun ajukan kepada Irene yang sedang terlelap.

Kenapa dia membuatku berdiri di bayangan abu-abu?

Kalau Irene malah balik bertanya kepada dirinya, itu berarti gadis itu tak tahu dengan jawabannya. Itulah mengapa Baekhyun menjawab kalau dia juga tidak tahu.

Bayangan abu-abu itu membuat mereka bingung. Bayangan abu-abu itu membuat mereka berdua kehilangan arah. Dan Bayangan abu-abu itu membuat mereka berada di keputusan pelik penuh dengan ketidakpastian.

-fin-

Iklan

49 thoughts on “[Writing Prompt] Shades of Grey

  1. Ping-balik: [Writing Prompt] Madness | Iruza Izate

Tell me

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s