[Scripturient] Slice-of-life: Cerita Sepele yang Menantang

scripturient

Related:
Scripturient tag

Setelah sekian lama blogging yang isinya cerita series yang nggak kelar-kelar dan cerita pendek yang isinya menggantung, akhirnya aku punya sedikit inspirasi untuk membuat salah satu postingan yang akan membahas tentang trik menulis lainnya. Meskipun–yah– pada praktiknya isi postingan ini lebih ke betapa-susahnya-menulis-cerita-sederhana yang lebih sering kita kenal dengan genre cerita slice of life.

Yang belum paham tentang Slice of life, berikut beberapa definisinya:

Slice of life is a phrase describing the use of mundane realism depicting everyday experiences in art and entertainment. [wikipedia]

Slice of life is a storytelling technique that offers insight into an ordinary person’s life. [twowritingteachers]

Intinya adalah genre ini menawarkan cerita kehidupan sehari-hari dengan permasalahan dan pemecahannya yang realistis beserta karakter-karakter tokoh yang bisa ditemui di kehidupan nyata. Inti dari genre ini adalah REALISTIS. No drama, no fantasy, no supranatural, no alay!

Lantas, bagaimana membedakan suatu cerita yang layak disebut dengan slice of life? Gampang. Intinya adalah Realistis. Jika suatu cerita cukup ‘hayal’ bagimu, maka cerita itu bukan dalam kategori slice of life. Contoh: ada sebuah cerita tentang seorang gadis biasa yang tiba-tiba menang lotre lantas tiba-tiba menjadi kaya dan menikah dengan seorang artis. Jika dipikirkan dari posisimu, apakah kira-kira hal tersebut mungkin terjadi pada kehidupanmu? Jika itu terlalu mustahil maka cerita tersebut bukanlah slice of life. Beda lagi dengan cerita tentang konflik yang terjadi antar teman. Misal sahabatmu naksir pacarmu lalu kalian bertengkar berbulan-bulan hingga membuat nilai akademismu hancur atau kamu tiba-tiba merasa terkucilkan dan lain sebagainya. Itu adalah cerita yang sangat mungkin terjadi dikehidupanmu maka cerita itu bisa dikategorikan sebagai slice of life.

Plot dari cerita slice of life sebenarnya tidak begitu menarik. Bayangkan saja. Cerita slice of life hanya berputar pada kehidupan normal seseorang tanpa adanya bumbu-bumbu ajaib semacam fantasi atau adegan menegangkan seperti di genre action ataupun romansa alay yang ada pada genre drama. Benar-benar membosankan dan tak asik untuk di tulis. Hanya cerita itu-itu saja. Masalah itu-itu mulu dan pemecahan masalah yang sederhana. Garis besarnya slice of life adalah curhatan dari penulis yang dibikin cerita. Udah gitu aja. Mana asiknya coba?

Tapi…

Cerita slice of life yang sukses dieksekusi bisa memberikan dampak lebih besar kepada pembaca. Pembaca biasanya cenderung lebih terkesan dengan cerita yang mirip dengan cerita diri mereka di kehidupan nyata. Sensasi yang pembaca dapatkan saat membaca genre ini biasanya seperti sehati dengan tokoh utama bahkan terpikir bahwa tokoh utama cerita itu adalah dia.  Pernah merasa seperti ini nggak? Semacam: “Ih kok bener banget sih. Ini kayak ceritaku pas waktu itu.” pernah begitu? Pasti pernah! Kalau pembaca merasa masuk kedalam karakter tokoh utama, berarti penulis itu sukses membuat ceirta sclice of life.

Yah.. Itulah kenapa genre slice of life layak di cicipi. Cerita sederhana tapi punya banyak kesan.

Genre slice of life tidak melulu pada plot yang harus realistis. Tapi tokoh dalam cerita juga harus realistis dong. Misal, ada seorang gadis bernama Irene. Dia cantik, berambut panjang, berkulit putih, matanya berbinar, kaya, anak dari keluarga terpandang, pintar, nilai akademisnya diatas rata-rata, baik hati, punya banyak fans, nggak punya musuh, semuanya suka padanya.

Ada nggak sih manusia macam dia? Irene manusia bukan sih? Ngebosenin banget kan ada orang yang punya segalanya. Seolah olah hidupnya mulai lahir sampai mati berjalan dengan mulus dan dia bisa mendapatkan apapun yang dia mau cukup dengan makan teratur dengan gizi seimbang.

Tokoh unrealistis semacam ini bukan tipikal genre slice of life. Coba misal gini. Irene cantik, berambut panjang, berkulit putih, matanya berbinar, kaya, anak dari keluarga terpandang, pintar, nilai akademisnya diatas rata-rata, baik hati, punya banyak fans, nggak punya musuh, semuanya suka padanya tapi dia diam-diam lesbian.

Nahlo. Ketemu cacatnya kan? Akan lebih mudah diterima oleh akal sehat jika seseorang punya kelemahan bukan? Dan akan lebih mudah ditulis permasalahannya jika tokohnya punya kelemahan bukan?

Bandingkan saja dengan Irene satu yang super duper perfect abis dengan Irene dua yang punya kelemahan. Irene satu yang perfect akan cenderung melalui kehidupannya dengan lancar dan tanpa masalah. Lantas ngapain juga bikin cerita dengan karakter perfect dan nggak bakal punya masalah padahal inti dari cerita adalah masalah dan pemecahannya. Seperti slogan dari blog iruza izate tercinta ini. *uhuk*

Problem is art.

Masalah akan menjadi sebuah seni karena seni bisa diciptakan dari sebuah masalah. Seperti setiap cerita yang kita nikmati, semuanya punya konflik. Dan konflik itulah yang membangun cerita.

Jadi intinya adalah, jangan membuat karakter yang terlalu hayal karena karakter tersebut justru akan membuat mati ceritamu. Ini berlaku tidak hanya pada genre slice of life saja, melainkan semua genre. Setiap karakter harus punya kelemahan. Intinya gitu. Yup.

Jadi, apa susahnya menulis slice of life? Apa susahnya menulis karakter realistis? Apa susahnya menulis cerita sehari-hari?

Jawabannya adalah susah susah gampang.

Tantangan menulis genre slife of life biasanya gini: kalau cerita terlalu sederhana ditakutkan akan membosankan serta tak berkesan, dan kalau ditambahi beberapa adegan sedikit alay takutnya melenceng dari genre dan bisa berakhir menjadi tidak realistis. Padahal yang diinginkan dari slice of life adalah cerita sederhana tapi mengesankan. Nahlo. Bisa nggak bikin cerita semacam ini? Pasti masih bingung ya?

Lalu bagaimana cara menulis slice of life? Berikut tipsnya.

Cara Menulis A Slice-Of-Life Story (aku males banget nerjemahinnya jadi baca aja di english aja ya. Hahaha *ketawa jahat*)

  1. Read some slice-of-life stories before writing one.Great slice of life can be transporting; bad slice of life will be boring. A story where nothing much happens to an everyday, average person can be a recipe for disaster if you don’t know what you’re doing. Read slice-of-life pieces in literary journals to get a sense of the form before you take a stab at writing one.
  2. Get real. Realism tends to be the focus of most slice-of-life stories. Use your narrative to examine those small, ordinary, yet often powerful moments of daily life. However, keep in mind there are no rules that say you couldn’t do something wild—like write a slice of life about a dog, an alien, or a vampire.
  3. Focus on character.A slice-of-life piece doesn’t necessarily have to feature obvious, gripping conflict or larger-than-life actors. But the characters—their everyday desires, their disappointments, their emotional reactions to what’s going on (or not going on)—must be well-developed. Though slice-of-life pieces may be “quiet,” they still have to be interesting and worth the reader’s time. Maybe the main character doesn’t measurably change over the course of the piece, but the reader should be changed or affected by what he or she has read.
  4. Focus on environment.Slice-of-life pieces don’t necessarily need to be set in colorful, fascinating settings. Yet something about the characters’ environment should be compelling. Great slice-of-life pieces offer insight into the small, common moments that might go unnoticed in bigger stories. So spend time thinking about your character’s environment to learn what will make it interesting to your reader.
  5. Keep it short.A slice-of-life piece that goes on too long can begin to feel like a prosaic short story that lacks focus and form. Though there are no hard and fast designated word counts for slice-of-life stories, a safe goal might be around 1,500 to 2,000 words if you’re hoping to submit to literary journals for publication.

Selain itu aku juga punya beberapa rekomendasi cerita slice of life yang layak untuk di nikmati. Mungkin aku akan membuat listnya nanti di postingan berikutnya. Jadi, apakah sudah siap dengan menulis slife of life? Semoga beruntung dan selamat berjuang!

Sampai jumpa di tips menulis beriutnya.

Salam hangat, ilachan.

 

Iklan

5 thoughts on “[Scripturient] Slice-of-life: Cerita Sepele yang Menantang

Tell me

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s