1

Aku Ingin Putus Sekolah

Tak pernahkah kau berpikir bahwa kita sebenarnya lupa caranya hidup? Kita hidup tapi apa yang ingin kita lakukan benar-benar sudah diatur. Kita berputar di suatu pusaran sistem yang memaksa orang berperilaku teratur.

Ketika kecil kita sekolah hingga melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Mulai dari SD, SMP, SMA bahkan Perguruan tinggi. Apa yang kau dapat dari sekolah? Belasan tahun yang engkau habiskan duduk pusing di kursi panas untuk belajar apakah sudah membuatmu pantas menjadi orang yang berguna? Aku berani bertaruh, bahwa mereka mereka yang mempunyai ranking akademik tinggi belum tentu cekatan dalam bekerja. Aku yakin mereka yang mempunyai prestasi akademik tinggi masih kalah kreatif dengan mereka yang sejak dini sudah dilatih untuk bekerja.

Jadi sebenarnya, kita sekolah lama-lama ini dicetak untuk menjadi apa?

Untuk menjadi orang yang berilmu? Tapi apakah ilmu yang kita dapat cukup untuk memberi makan hidup? Tapi andai aku dulu tak sekolah, aku sekarang menjadi apa?

Ha! kenapa aku sekarang merasa seperti manusia berperilaku robot. Dan kenapa pemerintah mewajibkan pendidikan formal padahal kurikulum yang mereka tawarkan membuat kita berlari mengejar hal yang tak punya manfaat. Andai banyak orang yang sadar bahwa ilmu itu berasal dari banyak sumber. Sekolah hanyalah wadah yang membuat batas gerak kita terbatas. Dan justru, ilmu yang di sekolah ini sangat jauh berbeda dengan ilmu yang kita butuhkan dalam kehidupan. Semakin lama semakin muak aku dengan sistem ini. Ironinya dunia pendidikan malah dijadikan ladang bisnis.  Sial! Aku ingin putus sekolah.

 

Sampingan
9

Segala sesuatu, apapun yang kita kerjakan berasal dari niat. Lantas, apa niat ku membuat semua ini? Untuk apa semua ini? Untuk apa aku menulis banyak paragraf untuk kalian?

Katakan padaku, mana niat ku yang paling tulus. Tahukah kalian? Lalu, mana manfaat yang bisa aku ambil? Yakinkan aku.

Status
6

Aku baru menyadari, alasan terbesar writing block bukanlah karena kehabisan ide, cerita sumbang, atau malas. Tetapi, bagaimana cara menulis tanpa peduli hasil tulisannya nanti seperti apa, tanpa peduli kritikan yang muncul nanti seperti apa, dan tanpa peduli ekspektasi tinggi dari pembaca. Aku merindukan cara menulis yang masa bodoh seperti itu. Dan, yah. Itulah kenapa serial ber-chapter ku selalu stuck di tengah jalan bahkan sebagian besar aku tarik kembali.

Mari tertawa hambar bersamaku.

Hahahaha

Adakah saran? Adakah orang lain yang mengalami hal sama seperti diriku?